Perbedaan Fintech Peer to Peer Lending Legal vs Ilegal

  • Whatsapp

Akhir-lahir ini fintech peer to peer lending (p2p) mendapat sorotan negatif, dengan banyaknya kasus penagihan yang keterlaluan. Kasus terakhir di Solo seorang wanita peminjam online dipermalukan dengan cara disebar ke seluruh nomor telepon di phonebook-nya, dan diiklankan di media sosial sebagai wanita yang “Siap Digilir”.

Read More

Hal ini tentu meresahkan masyarakat, apalagi peminjam dikenakan potongan administrasi tidak jelas yang sangat besar, ditambah bunga dan denda yang sangat besar. Hal negatif seperti itu dilakukan oleh aplikasi pinjaman online yang ilegal atau tidak resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara Fintech peer to peer lending yang resmi dan legal harus terdaftar dan mendapatkan izin dari OJK. Berbagai fintech ini wajib mematuhi segala aturan yang ada, seperti akses data konsumen dibatasi dalam koridor tertentu hingga cara penagihan sesuai kode etik.

Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi OJK Tongam Lumban Tobing mengatakan setidaknya ada 113 fintech yang terdaftar dan berizin OJK, terdiri dari 7 perusahaan telah berizin.

Masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap perusahaan yang menawarkan pinjaman secara online sehingga tidak menjadi korban oknum tak bertanggung jawab ini. Masyarakat dapat mengakses daftar fintech peer to peer lending yang terdaftar di OJK ini di situs resmi OJK.

Tak ada cara lain untuk mengetahui suatu fintech legal atau ilegal. Namun, terdapat beberapa perbedaan yang dapat diperhatikan. Bagaimana cara membedakan ciri fintech legal dengan ilegal ini? Berikut ulasannya:

Ciri-Ciri Fintech Lending Legal dan Aman

1. Platfotm fintech peer to peer lending berizin OJK

2. Identitas pengurus dan alamat kantor jelas

3. Pemberian pinjaman diseleksi secara ketat

4. Informasi biaya pinjaman dan denda transparan

5. Total biaya pinjaman 0,05-0,8 persen per hari

6. Maksimal pengembalian, termasuk denda 100 persen dari pinjaman pokok

7. Penagihan maksimal 90 hari

8. Akses saat install aplikasi hanya ke fitur kamera, mikrofon, dan lokasi

9. Memiliki layanan pengaduan konsumen

10. Risiko peminjam yang tak melunasi setelah batas waktu 90 hari akan masuk ke daftar hitam atau blacklist Pusdafil

Ciri-Ciri Fintech Lending Ilegal

1. Tak mempunyai izin resmi

2. Tidak ada identitas pengurus dan alamat kantor yang jelas

3. Informasi bunga atau biaya pinjaman dan denda tidak jelas

4. Bunga atau biaya pinjaman tak terbatas

5. Total pengembalian, termasuk denda tidak terbatas

6. Penagihan tidak ada batas waktu

7. Akses ke seluruh data yang ada di ponsel pintar peminjam

8. Risiko peminjam yang tidak melunasi setelah batas waktu dapat berupa ancaman, teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, hingga menyebarkan foto atau video pribadi

Itu tadi ciri ciri fintech yang legal dan illegal. Sebagai konsumen maupun calon konsumen penting bagi kita untuk teliti sebelum melakukan transaksi bisnis investasi terpercaya di platform peer to peer lending. Cari tahu perusahaan p2p tersebut apakah memliki reputasi baik atau tidak. Salah satu platform p2p yang banyak direkomendasikan oleh banyak orang adalah Amartha.com, situs peer to peer pelopor di tanah air yang telah berhasil menyalurkan kredit hingga pelosok negeri

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *